Ronaldo, Messi, Ronaldo, Messi. Ya, hanya dua nama itu yang terus disebut saat memperdebatkan siapa yang layak menyandang status sebagai pemain terbaik dunia saat ini.

Saking "jenuhnya" dengan perdebatan ini, legenda sepakbola Inggris yang juga mantan kapten Manchester United, David Beckham, sampai mengeluarkan perkataan "Berhentilah memperdebatkan Messi dan Ronaldo. Sebagai pecinta sepakbola, kita tinggal menikmati pecahnya rekor demi rekor dari dua pemain ini, tanpa harus berdebat".

Perkataan Beckham ada benarnya. Sebab, pertanyaan "Siapa yang lebih hebat dari Messi dan Ronaldo?", tidak akan pernah menemukan jawaban valid layaknya Anda membuat sebuah skripsi yang menggunakan metode kualitatif, yang hasilnya ditunjukkan lewat angka.

Catatan penulis, jangan baper membaca kata "skripsi" di paragraf sebelumnya. Siapa pun kalian yang sedang mengerjakan skripsi, semangat!

Oke Skip bahas skripsi, kembali ke soal Ronaldo dan Messi. Kedua pemain ini sudah memainkan laga perdananya bersama timnas masing-masing di Piala Dunia dengan ban kapten melingkar di lengan.

Bersama Portugal, CR7 menampilkan penampilan luar biasa dengan menjadi tokoh protagonis untuk negaranya saat melawan Spanyol. Pemain kelahiran Madeira ini mencetak hattrick dan menghindarkan Portugal dari kekalahan.

Belum lagi, gol terakhirnya tercipta lewat proses yang sangat cantik, dari eksekusi tendangan bebas, melewati pagar betis Spanyol yang diisi Sergio Busquets, Sergio Ramos dan Gerard Pique. Lekukan bola sepakannya pun membuat kiper La Furia Roja, David de Gea, terdiam.

Berbagai catatan ditorehkan dari laga tersebut. Di antaranya, tiga gol Ronaldo dihasilkan hanya dari empat kali tembakan. Total, Ronaldo sudah mencetak 84 gol untuk negaranya, lebih banyak 20 gol dari Messi bersama Argentina.

Nama CR7 juga tercatat sebagai pemain tertua (33 tahun 130 hari) yang mencetak hattrick di Piala Dunia. Belum lagi prestasi lain yang diraihnya sepanjang tahun 2018, sebagai juara Liga Champions, pencetak gol terbanyak Liga Champions dan pencetak gol terbanyak sepanjang masa Portugal.

Jika ada seorang kiper yang disebut sebagai "kiper terbaik dunia", seolah julukan tersebut tak lagi disandang selama 90 menit saat melawan tim Ronaldo. Dia sudah sembilan kali menjebol gawang Gianluigi Buffon dan Manue Neuer dan tujuh kali membuat De Gea memungut bola dari gawangnya sendiri.

Lanjut ke Messi. Memang, Argentina juga hanya mampu bermain imbang di pertandingan membuka melawan Islandia, yang notabene debutan di Piala Dunia.

Kedua tim bermain imbang 1-1. Gol Argentina dicetak Sergio Aguero, sedangkan gol Islandia dicetak Alfred Finnbogasson. Tapi, Messi menjadi sasaran kritik di pertandingan ini.

Sebab, El Messiah gagal menjalankan tugasnya sebagai eksekutor penalti. Bola sepakannya berhasil ditepis kiper Islandia, Hannes Thor Halldorsson. Peluang untuk unggul 2-1, hilang. Itu adalah penalti keempat Messi yang gagal menjadi gol dalam tujuh kesempatan terakhir, baik bersama Argentina atau Barcelona.

"Embel-embel" GOAT atau Greatest of All Time yang dibawa ke Rusia oleh seorang Messi sama sekali tak terlihat di pertandingan ini. Meski melepaskan 11 tembakan, bola seolah enggan menemui sasaran. Terlalu berat kah beban Messi di timnas Argentina?

Catatan lain dari seorang Messi di laga ini adalah, Sejak 1966, hanya Luigi Riva (kala melawan Swedia dan Israel di Piala Dunia 1970) yang melepaskan lebih banyak tembakan dari Lionel Messi tanpa mencetak gol (13 total tembakan)

Keadaan serupa pernah terjadi sebelumnya. Terakhir kali Lionel Messi melepaskan banyak tembakan tanpa berbuah gol adalah saat memperkuat Barcelona di pertandingan melawan Deportivo La Coruna (Desember 2017), dengan total 11 tembakan.

Tapi, terlalu dini untuk menyebut Messi melempen di Piala Dunia. Sebab, selain teknis di lapangan, non-teknis di luar lapangan juga mempengaruhi performa seorang pemain. Biar bagaimana pun, Messi tetap lah manusia biasa.

Kemungkinan yang bisa menyebabkan performa Messi belum bisa ada di level terbaik adalah pertama karena dia memainkan pertandingan di tengah gegap gempita dunia menyerukan nama sang rival, Cristiano Ronaldo yang di hari sebelumnya menjadi inspirator kemenangan Portugal.

Motivasi untuk tampil lebih baik, mengalir bersamaan dengan tekanan yang dirasakan Messi di timnas Argentina. Alih-alih tampil ngotot, nyatanya menjadi bumerang bagi diri sendiri karena kurang maksimal mengelola motivasi dan tekanan dari seluruh dunia.

Jalan keduanya masih panjang. Bukan tidak mungkin baik Messi atau Ronaldo bisa memberikan kejutan, entah kejutan dalam konotasi positif atau sebaliknya. Karena, poin utamanya, sepakbola bukanlah ilmu pasti.