Gelaran MotoGP 2018 memang sudah diprediksi bakal menyajikan pertarungan yang sangat ketat dan sengit. Ini sudah dibuktikan hingga seri kedua di Argentina, dimana pemenang podium adalah para pebalap yang berbeda.

Hal ini dikarenakan jarak antara pebalap pabrikan dan tim satelit semakin tipis. Hasil balapan bukan lagi ditentukan oleh skill para pebalap, melainkan seberapa mampu pebalap tersebut memilih kompon ban yang tepat pada saat balapan digelar.

Selain itu, persaingan diantara rider peserta balapan MotoGP musim ini juga makin ketat, bahkan sudah masuk ke ranah pribadi. Contohnya adalah perseteruan terbaru antara Marc Marquez dengan Valentino Rossi di MotoGP Argentina yang baru saja usai dihelat.

Dua rider terbaik MotoGP beda generasi tersebut kembali terlibat insiden di trek, yang kemudian berbuntut panjang di luar lintasan. Adalah Marc Marquez yang mulai menabuh genderang perang dengan Rossi di Argentina, manuvernya menyalip Rossi di tikungan ke-13 Sirkuit Termas de Rio Hondo (9-4-2018), tak bisa diantisipasi oleh Rossi sehingga kedua motor bersenggolan. Demikian, seperti dikutip dari www.liputan6.com (9-4-2018).

Akibatnya, Rossi terdorong dan terjatuh di pinggir lintasan, sementara Marquez melenggang dengan santai melanjutkan balapan. Hal inilah yang membuat Legenda hidup MotoGP tersebut murka, karena menganggap Marquez sengaja menjatuhkan dirinya. Mengapa dalam beberapa musim terakhir ini, kedua rider paling terkenal di MotoGP tersebut selalu terlibat permusuhan, baik di dalam sirkuit maupun di luar ?

Berikut ini 3 alasan, penyebab Marc Marquez terkesan sangat membenci sosok Valentino Rossi di MotoGP :

1.) Kalah Pamor

Valentino Rossi adalah legenda hidup MotoGP yang paling banyak memiliki penggemar dari seluruh dunia, mengalahkan para pebalap masa kini, termasuk Marc Marquez. Meski sudah tak pernah jadi juara dunia sejak 2010 lalu, namun kharisma seorang The Doctor masih tetap memukau penggemarnya di seluruh dunia.

Salah satu alasannya, Rossi adalah sosok rider yang sangat ramah, terbuka, jujur dan lucu. Faktor inilah yang sangat jarang dimiliki oleh rider lainnya, termasuk Marc Marquez yang terkesan sedikit tertutup bagi pers. Padahal berbicara masalah prestasi, rider Repsol Honda tersebut tak kalah memukau dibandingkan dengan Rossi.

Mungkin Marc Marquez beranggapan, selama masih ada Rossi di MotoGP, maka ia akan selalu dibawah bayang-bayang ketenaran The Doctor. Marquez pun terkesan ingin mengalahkan Rossi dengan segala cara di lintasan, baik secara bersih maupun kotor.

2.) Gestur Tubuh Rossi Yang Aneh Saat Konferensi Pers Jelang Balap

Bagi kalian yang sering mengikuti konferensi pers jelang race digelar, pasti sering sekali melihat bahasa tubuh Rossi yang aneh, khususnya saat Marquez sedang diwawancarai. Rossi terkesan tidak menyimak dengan baik, ia sering membuang muka dengan mimik seperti orang bergumam atau bahkan bercanda dengan rider lain disebelahnya.

Sementara Marquez berbeda. Saat Rossi sedang diwawancarai atau mendapat pertanyaan dari pers, Marquez terkesan sangat serius menyimak semua perkataan Rossi sambil menatap wajahnya. Hal inilah yang tampaknya membuat Marquez merasa tidak dihargai oleh Rossi. Rossi memang kerap melakukan hal yang demikian, semenjak insiden MotoGP Sepang tahun 2015 lalu. Sepertinya, Rossi masih menganggap Marquez sebagai penyebab kegagalannya meraih gelar juara dunia MotoGP 2015.

3.) Dendam Kesumat

Awal mula perseteruan panas Marquez dan Rossi dimulai dari GP Argentina 2015, dimana saat itu Marquez terlibat insiden senggolan dengan Rossi. Ban depan Marquez menyentuh ban belakang Rossi yang melakukan manuver di tikungan saat hendak disalip Marquez, Akibatnya Marquez terjatuh sementara Rossi berhasil menyentuh garis finish. Perseteruan pun berlanjut dan mencapai puncaknya di GP Sepang tahun 2015.

Banyak pihak menilai, insiden di GP Argentina 2018 adalah ulangan dari insiden serupa pada 2015 lalu ditempat yang sama. Bedanya, kali ini Rossi yang jadi korban dan terjatuh. Tak heran banyak pihak, termasuk Rossi yang menganggap tindakan Marquez berlebihan dan seperti balas dendam seorang Marquez terhadap dirinya.

Apapun alasannya, ini bukan cara yang tepat bagi Marquez untuk melakukannya. Sebab selain dirinya rugi kehilangan banyak poin, balapan juga baru berjalan dua seri dan dirinya maupun Rossi masih berpeluang merebut gelar. Marquez juga telah membantah sengaja melakukan hal tersebut, ia beralasan ban depan motornya terkunci sehingga kedua motor mereka bersenggolan.

Saya hanya bisa berharap, agar insiden serupa tak terjadi lagi pada balapan seri selanjutnya musim ini. Sebab jika hal ini dibiarkan terus terjadi, akan berpotensi merusak sportifitas MotoGP, serta sangat berbahaya bagi keselamatan para rider MotoGP di masa mendatang. Baik pihak Dorna maupun FIM, diharapkan bisa segera mengambil tindakan tegas, agar tidak timbul masalah yang lebih besar di kemudian hari.