Liga Champions memang selalu menjadi panggung pertarungan setiap tim-tim peserta. Maka tak heran, jika di dalamnya terdapat ketegangan yang bisa menimbulkan luka. Perlu diingat, meski kompetisi ini kerap mempertontonkan tensi panas, tapi tidak berarti mereka yang terlibat benar-benar memiliki hubungan buruk. Itu hanya berlaku diatas lapangan semata.
Baru-baru ini, setelah berakhirnya laga final Liga Champions antara Real Madrid dan Liverpool, banyak artikel-artikel yang mengangkat tragedi benturan Mohamed Salah dan Sergio Ramos. Dan sebagian besar diantarnya, turut campur memberitakan perihal Sergio Ramos yang berniat mencederai Salah.
Perlu kita ketahui, sebagai seorang pemain yang tugasnya menjaga kedalaman tentu berada pada posisi yang dilematis. Ketika melancarkan upaya perlawanan, ia bukan hanya akan mendapatkan resiko pelanggaran dan kartu merah, tetapi juga image buruk dari milyaran pasang mata yang menyaksikan. Terlebih lagi ia tidak akan beruntung, apabila mereka menyimpan rasa benci terhadapnya. Tetapi wajar apabila pemilik ban kapten Real Madrid itu dipandang memilki niat jahat, mengingat saat itu Salah merupakan pemain kunci Liverpool. Siapapun akan mengerti, bahwa setiap hal yang menyangkut pemain sekelas Salah tentu tidak akan membutuhkan waktu lama untuk menjadi trending topik.
Namun yang terpenting, mari kita lihat peristiwa memilukan itu dari perspektif seorang bek. Apakah benar bahwa Sergio Ramos dengan sengaja ingin melukai Salah?
Bola.net (27/05/18) mengabarkan penilaian seorang legenda sepakbola yang posisinya sebagai pemain bertahan. Dia adalah Rio Fedinand, pria yang selama 12 tahun menjalani karir profesional bersama Manchester United tersebut berbicara perihal tindakan Sergio Ramos terhadap Salah. Menurutnya, seperti dikutip Daily Mail, Ramos sama sekali tidak mengindikasikan bahwa dirinya memang berniat untuk melukai Salah. Bahkan, pria 39 tahun itu menilai keputusan yang diambil Ramos memang sudah sewajarnya dilakukan, mengingat dia adalah seorang pemain bertahan, sedangkan Salah merupakan seorang penyerang. Dan terkait cedera yang dialami Salah, itu murni karena ketidakberuntungannya saat terjatuh.
"Saya tidak mau menghubung-hubungkan satu hal dan hal lain dalam kejadian ini. Apa yang ingin saya katakan adalah, saya melihat kejadian itu sebagai sebuah cara bertahan yang bagus yang ditunjukan oleh Ramos. Saya tidak merasa kejadian itu disengaja. Saya yakin dia [Ramos] tidak memiliki maksud buruk pada saat itu.” Tutur, Ferdinand.
Bahkan, jika dipandang dari perspektif pesepakbola bertipikal menyerang, cedera bahu yang diderita Salah adalah murni buntut dari tindakannya sendiri. Seperti dikutip Daily Mail (27/05/18), Frank Lampard-Legenda Chelsea mengatakan, "Ramos melakukan apa yang seorang bek harusnya lakukan. Kadang-kadang ketika anda melakukan kontak dan mengikatkan lengan, pada akhirnya akan berbuah ketidakberuntungan. Yaitu cara dia (Salah) jatuh.”
Tetapi, image buruk yang sudah sejak lama melekat pada diri Sergio Ramos membuat dia harus menerima banyak komentar miring, meskipun sejatinya ia tidak melakukan hal yang keliru. Disamping itu, Mohamed Salah pantas mendapatkan simpati dari para penggemar sepakbola dunia. Karena air mata yang mengalir di pipinya mencerminkan, bahwa dirinya sangat menyesal saat harus meninggalkan partai final sebelum waktunya. Get well soon, Salah. You'll Never Walk Alone!