Baru saja nama Indonesia harum karena aksi suporter The Jakmania di pentas AFC Cup, dengan menunjukkan koreografi dan bahkan sukses memecahkan rekor penonton sepanjang sejarah gelaran AFC Cup.
Kini, sepabola Indonesia kembali tercoreng oleh aksi kurang terpuji Aremania, pendukung Arema FC yang melakukan kerusuhan, pelemparan dan bahkan sampai membuat Pelatih Persib asal Argentina, Mario Gomez menderita luka di dahi.
Seolah, perjuangan The Jakmania untuk mengharumkan dunia sepabola Indonesia, sirna. Seolah, kerja keras yang telah mereka lakukan sealma ini, menjadi sia-sia. Dan secara langsung maupun tidak langsung, publik sepakbola Indonesia harus menerima akibat dari aksi oknum Arema FC.
Kerusuhan terjadi di menit akhir | bola.net
”Ini adalah sepak bola. Tetapi, saya tidak menyukai ini. Sekarang, saya ingin tahu apa yang terjadi dengan Komisi Disiplin. Karena untuk Supardi, ia dihukum empat pertandingan. Sekarang, apa yang ditakutkan," ucap Mario Gomez, seperti yang diutip dari persib.co.id (16/4/2018)
Turun kasta ke Liga 2, tentu menjadi sebuah hukuman yang pantas bagi Arema FC, agar keadian-kejadian seperti ini tida terulang lagi di kemudian hari. Sekaligus menjadi peringatan keras bagi suporter lain untuk tidak mengulangi tindakan anarkis.
Namun begitu, publik sepakbola Indonesia masih menanti keputusan Komisi Disiplin PSSI, apa hukuman yang pantas bagi Arema FC, agar para pendukung, terutama Aremania tidak mengulang kejadian yang sama di kemudian hari.
Keputusan hukuman apa, masih berada ditangan Komdis PSSI | arah.com
Publik hanya berharap agar semoga Komdis PSSI tetap mampu bertindak tegas, siapapun Tim yang melanggar dan berbuat kerusuhan. Karena dengan begitu, maka akan menjadi awal baru bagi dunia sepabola Indonesia, dengan tanpa adanya kerusuhan semacam ini.